ALUR WAKTU : SEBUAH ARTI YANG MULAI DILIHAT
Assalaamu'alaykum.
Senang berkenalan dengan Anda. Saya Nida Savaira. Sudah lama semenjak hari kelulusan masa sekolah menengah pertama berlalu, saya memulai menulis blog lagi. Ini canggung, bahkan saya merasa sedih harus menerima kenyataan seperti itu. Pada halaman kali ini akan sangat terbuka, saya merasa harus bercerita banyak tentang apa yang terjadi di kehidupan saya beberapa bulan terakhir.
Saya akan memulai dengan bagian bagaimana kehidupan saya berubah sepenuhnya.
#Saya memikirkan akan bagaimana
Cukup sulit untuk dijabarkan secara tulus. Saya hanya tidak tahu, ah, bukan, saya hanya tidak begitu ingat bagaimana pada akhirnya saya bisa berada di ruang dan tempat waktu saat ini. Awalan yang mendebarkan. Cukup sulit melihat bagaimana sekitar berlalu bersama waktu yang kian menyempit. Didasari sikap hangat sederhana, saya bagai anak anjing yang bermain bersama anak kucing, terlihat aneh dan lucu. Bahkan sapaan saat itu saya lontarkan dengan sangat baik. Saya merasa puas, walaupun pada akhirnya saya kembali pada alur yang sudah ditentukan.
Saya terlalu membuang banyak energi saat itu. Tapi, saya merasa puas, "itu bayarannya." saya menganggap itu pantas. Saya mendapat teman. Saya mendapatkannya. Aku mendapatkannya. Lingkup ruang dengan segala topeng pada wajah waktu selalu membuatku merasa ragu untuk memiliki seorang teman. Tak pernah terbesit di benakku akan berteman dengan seseorang. Terlalu individualis trekadang tidak begitu buruk, percaya deh :D tapi jangan sampai sikap individulis-mu itu menguasai sikap hangat nan lembut dalam ragamu.
Aku mendapatkan teman. Kurasa, hal itulah yang menjadi sebuah kunci bagi pintu usang itu. Pintu itu akhirnya terbuka! Sedikit berdebu, tapi masih layak. Mereka, lebih dari matahari untukku. Banyak terjadi di bulan Juli. Bahkan aku akan membuat sajak khusus untuk bulan Juli. Apakah aku akan melakukannya dengan baik?
Pada akhirnya aku akan selalu mengikuti semua alur yang ada. Aku terkejut bukan main, mengingat betapa senangnya hati saat itu. Apa ada kalimat yang patut untuk dilukiskan dalam gelapnya malam sebagai penabur gemerlap bintang? Langit gelap itu memilih hatiku untuk mendapatkan perannya dan merekalah sebagai penabur cahaya bintang. Berjuta sinar, perlahan menghangat, membara, membawa haru.
Aku bahkan tak menyangka hidupku akan berjalan seperti apa yang aku harapkan. Kamu sepertinya membaca isi hati seorang pecundang saat ini, tapi itulah kenyataanya. Tapi saya tahu, yang pasti, 'waktu terbaik untuk merasakan hal seperti itu hanyalah sesaat'. Kumohon jangan kecewa dahulu, aku hanya terlalu takut untuk kehilangan. Aku hanya merasa apakah maksud dari semua ini, apakah aku yang membuat semua ini terjadi, apakah aku membuat ini sendiri. Apakah... terlalu banyak hal yang dipikirkan. Mencoba untuk berpikir bersama air mengalir dalam jernihnya udara.
Aku... sepertinya sadar, bagaimana sebuah pertemanan dapat mencairkan hati yang kian lama membeku, diselimutinya dengan benang wol yang hangat bersama bersantai dengan coklat panas dan api unggun (please deh, membayangkannnya saja sudah hangat).
Aku... sepertinya juga mengerti, bagaimana rasa senang ketika dapat berkumpul bersama, bercerita tentang apa yang terjadi, tertawa bersama, menonton film bersama, pergi keluar bersama, curang bersama, sukses bersama, bermain bersama, belajar bersama, membaca buku di perpustakaan bersama, ke kantin bersama, ke toilet hanya untuk mengaca dan mengambil beberapa gambar. Aku, bahagia.
Aku sedikit kesal akan diriku yang selalu merasa ada sesuatu yang menjanggal di balik itu semua, seperti, "bisa gak sih? berpikir positif sedikit?" Ya, pada akhirnya kalau boleh jujur aku sangat bahagia. Bahkan kebahagiaanku sangat jauh lebih besar daripada kronos yang baru saja mendapatkan tahtanya (walaupun dia juga memikirikan hal ganjal).
#Mempunyai mereka yang tak pernah ada sebelumnya
Aku selalu berpikir, apa dan bagaimana mereka melihatku. Tapi jika pertanyaan itu dibalik menjadi, bagaimana aku melihat mereka, aku akan berkata, "Tanya saja kepada tempat yang menjadi saksi bisu pada kenangan yang kita besit pada tempat itu." alias aku terlalu malu untuk mengatkan bahwa aku sangat bersyukur memiliki mereka yang hadir di kehidupanku.
Aku seperti, menemukan keindahan dalam momen singkat itu. Walaupun, konsep keindahan itu akan menjadi milik poros waktu. Secara seperti, menemukan keindahan dalam kefanaan sesaat seperti pertemanan. Tapi, aku akan menikmati apa yang sudah ditentukan dengan sangat baik, semoga saja sih...
Memiliki mereka yang tak pernah ada sebelumnya bagaikan matahari bertamu pada seseorang yang membutuhkan kehangatannya.
Saya akan menjalankan peran, dengan mengekspresikan kenikmatan dan kefanaan yang tembus pandang sambil menatap waktu berlari.
Dan, mereka menjalankan perannya.
"Mereka tersenyum, hangat, menandakan pertemanan".
#Sebuah permintaan
Seandainya, hanya berangan-angan. Hanya merasa bahagia. Aku ingin mengucapkan kata terima kasih, pada samar yang bisu di dalam pintu usang aku terselamatkan oleh sebuah kunci bernama pertemanan.
Terima kasih, andai saja, aku seorang bintang, aku ingin membuat momen ini menjadi untuh selamanya. Melupakan poros waktu dan meninggalkannya pada kursi senja.
Sampai jumpa kembali pada halaman selanjutnya.
bye-bye~~
Komentar
Posting Komentar